DIGAGAS PEMBENTUKAN BBM KOLABORASI BDC DAN BUMDESA

Pringsewu – Sekretaris Dinas PMP Ivan Kurniawan menggagas terbentuknya BBM BummlpekonBDC Mart di Pringsewu sebagai wujud sinergitas dan penguatan kapasitas produk unggulan pekon dan kelurahan juga kolaborasi program Dana Desa dan program KOTAKU di Pringsewu.

KOOrdinadi ini pasca Monitoring bersama TA Kab Dini Destiani dan TAM Pengembangan Ekonomi Lokal Pengelolaan Keuangan Desa KPW II Lampung A. Syamsuddin.

Sudah memasuki tahun ketiga sejak UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa di-sahkan. tetapi tetap saja wacana pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) tak mampu berlari cepat. Sebagian besar BUMDesa yang sudah berdiri mengalami nasib naas, lumpuh layu bahkan sebelum melangkahkan kakinya sama sekali. Apa yang salah?

Awalnya, ribuan desa bak tsunami, ramai-ramai mendirikan BUMDesa dengan menggunakan segala kemampuannya menyerap pemahaman mengenai BUMDesa. Kewenangan desa yang begitu besar nantinya dalam mengelola dana dan menjalankan jenis usaha adalah beberapa hal yang memicu semangat perangkat desa dan warga. Tetapi setelah proses ditempuh dan berdiri lembaga BUMDesa, BUMDesa sama sekali tak mudah untuk dikembangkan.

Proses pelembagaan BUMDesa adalah salahsatu titik yang membuat gerakan BUMDesa menjadi tak mudah dikembangkan. Proses pelembagaan adalah proses yang harus dilewati meliputi bagaimana nilai-nilai atau visi yang dikandung BUMDesa tersosialisasi dan mulai terserap dalam kehidupan masyarakat desa dan mulai menjadi bagian hidup sehari-hari warga desa.

Proses penyerapan inilah yang harus terjadi pada BUMDesa, yang oleh para akademisi disebut proses internalisasi. Jika proses penerimaan dan pengakuan ini sudah terjadi pada BUMDesa, maka BUMDesa bakal mendapat dukungan seluruh warga desa. Semangat partisipasi juga bakal tumbuh dan menguat setelah ini.

Maka tantangan membangun BUMDesa bukan hanya harus merumuskan jenis usaha BUMDES sesuai potensi desa saja melainkan bagaimana lembaga ini diakui dan didukung warga. Maka sebelum lembaga usaha lahir, sebelum dana turun dan mulai dibelanjakan untuk pendirian unit usaha, para pengurus BUMDesa juga musti memiliki strategi untuk memikat hati warga. Pertama, karena unit usaha BUMDesa semaksimal mungkin harus menciptakan manfaat ekonomi terutama bagi warga desanya alias menjadikan warga sebagai konsumen loyal. Kedua, agar mendapat daya dukung terus-menerus dan makin besar sehingga BUMDesa bakal memiliki kekuatan untuk mengembang.

Seperti yang dilakukan BUMDesa Amarta, Desa Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta. Dipimpin Agus Setyanta, BUMDesa yang berdiri tahun 2016 ini sejak awal dengan serius merancang bagaimana mereka memulai gerakannya sebagai lembaga sosial ekonomi yang harus merasuk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. “ Pada tahun awal kami tidak memasang target pendapatan profit sebagai acuan. Yang terpenting adalah Amarta harus membuktikan dirinya bisa eksis secara mandiri sebagai lembaga ekonomi sekaligus menyelesaikan persoalan warga,” ujar Agus.

engelolaan sampah adalah kegiatan yang dipilih BUMDES Amarta sebagai unit usahanya. Kenapa sampah? Pertama, sampah adalah salahsatu masalah di Desa Pandowoharjo. Soalnya, desa ini memiliki jumlah penduduk yang cukup padat karena lokasinya dekat dengan kota Yogyakarta. “ Mengelola sampah berarti menyelesaikan salahsatu masalah warga, menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus sampah memiliki nilai ekonomi yang cukup memadai untuk dijadikan sebuah unit usaha mandiri,” ujar Agus.

BUMDesa Amarta membuktikan keyakinannya. Dalam tiga bulan saja unit pengelolaan sampah yang kini ditangani empat orang pekerja dengan gaji UMR ini sudah membukukan keuntungan. Kini, pengelolaan sampah BUMDesa ini sudah mampu membukukan Rp. 160 juta setahun.

Secara nominal angka itu bukanlah angka yang fantastik bagi capaian sebuah lembaga usaha. Tetapi pencapaian yang lebih besar sebenarnya bukan pada nominalnya. Melainkan pengakuan dari masyarakat mengenai kehadiran BUMDesa di lingkungan kehidupan berdesa mereka. Faktanya, kini Amarta mulai mengembang dengan membuka toko desa yang aktif menangani distribusi barang kebutuhan pokok warga, bergandengtangan dengan BULOG dan membangun pabrik pupuk organik dari sampah yang mereka kelola. Amarta dengan gemilang berhasil melalui proses pelembagaan dirinya sebagai lembaga usaha milik publik desa.

Kiprah Amarta adalah salahstau strategi yang harus menjadi contoh bagi BUMDesa lain yang sedang berusaha memasuki tahapan BUMDesa sebaga bagian dari kehidupan masyarakat. Soalnya, tanpa dukungan publik desa, bakal sulit bagi BUMDesa menjalankan banyak hal.

Proses pelembagaan yang paling krusial terjadi pada masa awal lembaga berdiri yakni proses bagaimana sejak awal memenuhi tahapan demi tahapan mulai dari Musyawarah Desa pertama, membentuk tim khusus yang akan mengidentifikasi potensi, menjaring aspirasi sekaligus menyiapkan
materi menuju Musyawarah Desa pembentukan BUMDesa. Seluruh proses ini sesungguhnya sangat penting karena bakal menjadi pijakan utama kelembagaan BUMDesa sebagai sebuah organisasi milik warga. Seluruh proses ini juga harus memiliki catatan proses yang rapi dan terdokumentasi dengan baik.

Dokumentasi proses dan sistem administrasi inilah yang bakal sangat dicari dan menjadi penyelesai masalah ketika BUMDesa mendapatkan masalah seperti konflik baik internal organisasi maupun berhubungan dengan eksternal. Soalnya, seluruh tata atutan mulai dari AD/ART BUMDES hingga catatan rapat, keputusan yang diambil dan sebagainya yang ada dalam dokumentasi adalah wujud partisipasi yang menjadi salahsatu tolak ukur bagi BUMDesa. (Diskomifo Prinsewu/ Hasbi)

Leave a Reply